Komisaris dan Direksi pada Perseroan Terbatas

Oleh: SumurunG

komisaris-sbtMelihat fenomena yang terjadi belakangan ini dimana terjadi penyalagunaan wewenang  oleh Komisaris  yang mengakibatkan kerugian bahkan kebangkrutan perusahaan, saya mencoba untuk melihat hubungan antara Komisaris dan Direksi dilihat dari sudut pandang undang-undang no 40 tahun 2007 tentang perseroan terbatas dan undang-undang no 13  tahun 2003 tentang ketenagakerjaan serta dari sudut pandang  teori organisasi. Paling  tidak ada dua perusahaan  yang menjadi korban akibat penyalagunaan wewenang dari komisaris utama yang mengakibatkan perusahaan tersebut rugi bahkan terancam bangkrut. Dua perusahaan itu adalah PT. Sarijaya Permana Sekuritas dan Bank Century. Modus operandi yang dilakukan adalah dengan memaksa dan/atau dengan persekongkokan dengan direksi untuk menjual produk investasi yang jelas-jelas rugi atau membuat transaksi fiktif atau mengunakan dana nasabah untuk keperluan pribadi komisaris yang bersangkutan. Kedua contoh perusahaan diatas adalah perusahaan yang menghimpun dan mengelola dana  masyarakat,  yaitu Investasi dan Perbankan.

Dewan Komisaris menurut UU No.40 tahun 2007  adalah Organ Perseroan yang bertugas melakukan pengawasan secara umum dan/atau khusus sesuai dengan anggaran dasar serta memberi nasihat kepada Direksi.

Direksi adalah Organ Perseroan yang berwenang dan bertanggung jawab penuh atas pengurusan Perseroan untuk kepentingan Perseroan, sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan serta mewakili Perseroan, baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar.

Perseroan terbatas adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini serta peraturan pelaksanaannya

Rapat Umum Pemegang Saham adalah Organ Perseroan yang mempunyai wewenang yang tidak diberikan kepada Direksi atau Dewan Komisaris dalam batas yang ditentukan dalam Undang-Undang ini dan/atau anggaran dasar.

Jika melihat dari defenisi diatas sebenarnya kedudukan komisaris itu tidak dalam posisi mampu memaksa dewan direksi untuk melakukan sesuatu kebijakan.

 

Tugas dan tangungjawab dewan komisaris ini sangat jelas dijabarkan pada pasal 108-121 UU No.40 tahun 2007  tidak ada satupun pasal yang menyatakan bahwa dewan komisaris dapat memerintahkan dewan direksi untuk melaksanakan perintah mereka. Begitupun dengan dewan direksi seperti dijelaskan pada pasal 92-107 UU No.40 Tahun 2007 tidak ada satu pasalpun yang menyatakan dewan direksi harus melaksanakan perintah dewan komisaris. Jika merujuk pada UU No.13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan Komisaris dan Direksi ini bisa dikelompokkan pada golongan pekerja/buruh karena mereka menerima upah atau imbalan.

Kenapa dewan komisaris bisa memaksa dewan direksi dan jajaran dibawahnya untuk menjalankan perintah mereka? Jawabnya, karena dewan komisaris itu ternyata merangkap pemegang saham. Pemegang saham seperti dijelaskan pada Undang-undang No.40 tahun 2007 adalah orang-orang yang mengangkat, memberhentikan dan memberikan upah atau imbalan kepada dewan komisaris dan dewan direksi.  Inilah yang menjadi sumber konflik dan sumber masalah terhadap dua perusahaan yang dicontohkan diatas. Pemilik saham merangkap Komisaris Utama menyalahgunakan kuasaanya dengan memerintahkan dan/atau bersekongkol dengan direksi untuk untuk mengambil keuntungan pribadi dengan mengorbankan nasabah atau konsumenya. Kalau sudah begini yang menjadi korban tentu saja nasabah atau konsumen dari perusahaan tersebut. Bagaimana posisi direksi? Dewan direksi dalam kasus ini bisa saja menolak perintah dari dewan komisaris kalau memang perintah atau saran dari dewan komisaris itu sudah merugikan perusahaan. Sebagai konsekuensinya dewan direksi kemungkinan akan diberhentikandari jabatannya oleh komisaris yang merangkap pemegang saham itu. Menurut aku itu adalah suatu pilihan yang harus dipilih oleh seorang direksi atau dia akan dituduh terlibat dan diharuskan bertanggungjawab bersama-sama dewan komisaris atas segala kesalahan yang dia buat. Pilihan sulit tetapi harus dipilih!.

 

Secara Organisasi suatu perusahaan bertujuan untuk mencari keuntungan dengan mengorganisir resources yang dimiliki oleh perusahaan itu. Selain mencari keuntungan perusahaan juga bertujuan untuk menciptakan image(pencitraan) yang baik dan mengupayakan kelangsungan hidup dari perusahaan itu. Dalam kasus kedua perusahaan contoh diatas bisa dikatakan telah terjadi konflik kepentingan antara pemegang saham dengan kepentingan atau tujuan dari perusahaan. Boleh dikatakan pemegang saham yang merangkap komisaris itu bekerja sama dengan dewan direksi melakukan tindakan kriminal dengan cara mencuri uang nasabahnya dan melakukan penipuan. Secara organisasi sebenarnya kedua perusahaan contoh diatas sudah tamat alias sudah tidak mungkin lagi bisa bertahan.  Keuntungan jelas sudah tidak ada terlebih sarijaya karena sudah ditutup untuk sementara sedangkan Bank Century menurut aku nasibnya sudah tidak jelas karena bisnis perbankan adalah bisnis kepercayaan(image) jadi sudah sangat sulit untuk mendapatkan kembali kepercayaan masyarakat. Kita tunggu saja apa yang akn dilakukan pemeritah terhadap dua perusahaan contoh ini, yang jelas image perusahaan ini sudah habis. Kemungkinan akan dibiarkan dengan Brand yang sama tetapi dengan pemilik saham, komisaris dan direksi yang baru serta dengan biaya expose yang besar untuk menjaga iklim industri dan rasa tanggungjawab kepada pekerja dan nasabah yang masih terikat dengan kedua perusahaan itu dengan harapan nasabah mau bertahan dan pekerja masih bisa bekerja.🙂

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s