Ruli di Jl.Hangtuah

 Oleh: SumurunG

jlhangtuah-duriTerpaksa aku bilang ruli(rumah liar) karena  mahkamah agung menyatakan bahwa pemilik lahan sepanjang  pokok jengkol sampe simpang  jalan melur adalah pt.chevron. Kemarin dari pagi sampe sore hari  pihak chevron dan pengadilan negeri dumai dibantu aparat kepolisian membongkar paksa rumah dan kedai yang ada disepanjang jalan itu.  Pagi hari, aku memang sudah lihat sambil lewat dijalan hangtuah  proses pembongkaran paksa itu dimulai dari simpang  jalan melur menuju  simpang  pokok jengkol. Sorenya ketika alat berat yang digunakan sampe dijalan depan jalan Bhakti aku bersama seorang kawan yang kebetulan pangacara dari sebuah perusahaan sekuriti yang bertugas menjaga area tersebut langsung berada ditempat pembongkaran paksa itu. Sayang aku nggak bawa kamera seperti biasa jadi nggak bisa lampirkan potonya disini.  :-)  Semua masyarakat yang memamfaatkan lahan kosong itu terlihat sangat sibuk mengumpulan semua harta benda mereka yang ada disana termasuk puing-puing  bangunan seperti, kayu, seng, kompor dan sebagainya. Menariknya didepan jalan bhakti itu ada sebuah  rumah yang semi permanen ketika akan dirobohkan mengunakan alat berat, yang punya bangunan itu keberatan karena dia beralasan bahwa dia memiliki ijin untuk mendirikan bangunan ditempat itu. Alhasil bangunan itu mendapat dispensasi 1 hari, dia diberi kesempatan untuk membongkar sendiri bangunan miliknya itu.  Sebagai gambaran buat kawan-kawan orang duri saat pembongkaran itu terjadi kerumunan masyrakat sepanjang jalan hangtuah ini sangat ramai apalagi banyak yang sengaja memarkirkan kendaraannya hanya untuk melihat proses pembongkaran bangunan. Sekarang jalan hangtuah ini memang kelihatan lebih bersih namun masyarakat setempat kecewa dengan pembongkaran ini.

Bagi aku pembongkaran ini tidak tepat dari segi waktu (timing), dan fungsi utilitas tanah. Seperti sama-sama kita ketahui, kondisi ekonomi saat ini sangat tidak pasti dan terjadi phk dimana-mana diseluruh dunia. Faktanya sebagian besar rumah liar (ruli) yang dibangun diatas tanah kosong itu digunakan masyarakat untuk berjualan, kedai kopi, membuat usaha pembibitan kelapa sawit, usaha tambal ban dan sebagainya. Pemerintah sedang berusaha mendorong masyrakat untuk berdikari dengan membuat pekerjaan bagi dirinya sendiri yang menghasilkan uang namun apa yang terjadi disini  sebuah perusahaan besar justru menghancurkan usaha pemerintah itu. Secara legal memang pembongkaran itu sah dan tidak mungkin lagi digugat karena sudah melewati proses pengadilan sampai level tertinggi yang ada dinegara ini tetapi secara ekonomis dan secara sosilogis ini tidak baik. Kondisi ekonomi masyarakat duri sekarang sedang  lesu dimana angka pengangguran tinggi dan harga jual hasil pertanian seperti sawit tidak begitu baik sehingga tidak banyak yang bisa kita lakukan disini. Membuka kedai disepanjang jalan hangtuah itu adalah salah satu cara untuk bisa bertahan hidup dan masyarakat bisa berkumpul menghabiskan waktu disana. Tanah disepanjang hangtuah itu adalah  tanah konsesi yaitu batas tanah yang dikuasai perusahaan dengan tanah masyarakat. Biasaya perusahan ini memang membuat tanah konsesi berapa meter dari tanah masyarakat dimana tanah konsesi ini dibatasi oleh pagar  dan  kanal. Tanah konsesi ini lah yang memisahkan antara tanah masyrakat dengan pagar dan kanal,  jadi posisi tanah konsesi ini berada  diantara pagar milik perusahaan dan tanah masyarakat.

Selain waktu(timing) yang  tidak tepat, masalah utilitas tanah atau pemamfaatan tanah juga harus diperhatikan oleh pihak perusahaan. Tanah konsesi ini posisinya sangat strategis dan memiliki nilai komersial yang tinggi sehingga masyarakat memamfaat tanah itu untuk mendapatkan keuntungan dari sana oleh karena itu harus dipikirkan oleh pihak perusahaan chevron ini untuk membuat tanah itu menjadi berguna bagi masyarakat. Seorang teman mengusulkan supaya lahan tersebut dibuatkan semacam taman kota sehingga  bisa berguna bagi masyarakat duri dan berguna juga bagi perusahaan chevron. Paling  tidak tanah tersebut bisa lebih indah dan hijau dan bisa juga digunakan untuk aftifitas olahraga.🙂

Seperti pernah aku tulis  sebelumnya mengenai Corporate  Social Responsibility, membuat taman kota atau apapun itu yang berguna bagi masyarakat sekitar tempat perusahaan beroperasi adalah sebuah aksi yang menguntungan perusahaan apalagi dalam undang-undang perseroan terbatas yang baru,  ini merupakan sebuah kewajiban bagi perusahaan.

Aku selalu menngusulkan untuk setiap aksi perusahaan harus selalu seimbang. yaitu  ketika ada pengurangan harus dibuat juga program penambahan dalam bentuk lain, misalnya ketika membuat kebijakan phk buatlah kebijakan program kepuasan kerja atau untuk kasus ini ketika harus membongkar rumah liar itu buatlah juga sesuatu yang bermamfaat buat tanah kosong itu. Sehingga terjadi keseimbangan dan adanya hubungan yang harmonis antara perusahaan dan masyarakat.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

6 Responses to Ruli di Jl.Hangtuah

  1. Nathanael Nainggolan says:

    i ma fakta na..jadi molo boi undang-undang i perlu do direvisi..kecuali na sertifikat baru boi.

  2. Sumurung says:

    wah..wah aku nggak tahu itu lae..repot juga kalau gitu. memang sebaiknya harta itu harus dijaga ya..tanah itu kan sebenarnya bisa berganti rupiah jugakan?🙂

  3. Nathanael Nainggolan says:

    repotnya..undang-undang kita ini kan mendukung pendudukan lahan yang tidak diolah selama lebih dari 2 tahun berarti milik siapa yang mengolahnya.. ha ha…gawat kan

  4. Ch Marbun says:

    kadang-kadang kan kita belum tahu kapan tanah itu akan digunakan pak. spt pembangunan komplek yang di depan rumahmu itu pak he… mungkin nanti ke depan nya itu dijadikan tempat saluran air pak ha…

  5. Sumurung says:

    aku juga punya pengalaman seperti pak marbun.🙂 masalahnya ada kondisi krisis global yang dampaknya juga terasa ke daerah ini pak.seperi kutulis diatas, segerahlah mamfaatkan tanah itu dan jangan dibiarkan kosong seperti tanah tidak bertuan, pasti masyarakat keluar dari sana dengan sendirinya tanpa harus dengan paksaan. ini menurut aku lho..

  6. Ch Marbun says:

    Agak susah menghadapi hal spt ini. Yang pasti memang harus cepat-cepat digusur apabila memang tanah itu bukan milik warga. Karena kalau tidak, akan semakin susah Pak. Ini aku alami waktu kami punya tanah yang tidak pernah kami lihat dan tanami. Memang jadi dilematis sih. Ini pendapatku Pak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s