KONVENSI

Oleh SumurunG

Seorang pemimpin menurut Ki Hajar Dewantara harus mampu melakukan tiga hal  yaitu; ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. (“di depan menjadi teladan, di tengah membangun semangat, dari belakang mendukung”). Sampai  saat ini tiga hal ini masih terus dipakai walaupun semboyan ini telah disampaikan hampir satu abab yang lalu.  Menurut saya jika dielaborasi tiga hal yang dimaksudkan Ki Hajar Dewantara ini adalah sebagai berikut:

Ø  Menentukan arah: membangun visi tentang masa depan yang jauh dan strategi-strategi untuk menciptakan perubahan-perubahan yang diperlukan untuk mencapai misi tersebut

Ø  Memadukan orang: mengkomunikasikan arah yang akan dicapai dengan kata-kata dan perbuatan kepada semua pihak yang diperlukan kerjasamanya untuk mempengaruhi terciptannya tim-tim dan koalisi-koalisi yang memahami visi dan strategi.

Ø  Memotivasi dan member inspirasi:menyemangati orang untuk mengatasi hambatan-hambatan.

Pertanyaannya adalah bagaimana kita memilih pemimipin yang mampu melakukan tiga hal besar seperti yang dikatakan Ki Hajar Dewantara itu? Saya menyakini untuk dapat menjadi seorang pemimpin yang mampu melakukan tiga hal diatas paling tidak harus memenuhi beberapa  syarat  dibawah ini:

1.      Mampu

2.      Takut akan Allah

3.      Dapat dipercaya

4.      Benci pada pengejaran suap

5.      Mempunyai track record yang baik

Setelah syarat diatas terpenuhi berikutnya adalah bagaimana memilih orang-orang yang memenuhi syarat itu? Dalan era demokrasi sekarang ini seorang pemimpin itu harus  dipilih oleh orang yang akan dipimpinnya untuk mendapatkan mandat. Jadi seorang calon pemimpin harus berusaha untuk mendapatkan simpati dan empati dari orang-orang yang akan dipimpinnya.  Untuk itu ada beberapa hal yang harus dibangun dan didapatkan oleh calon seorang pemimpin diera domokrasi sekarang ini yaitu, jaringan politik, jaringan sosial dan budaya dan terakhir yang juga penting adalah money(uang).

Dalam sebuah percakapan seorang anggota legislatif, dia mengemukakan keinginannya untuk menjadi pemimpin dikabupaten Bengkalis ini. Dia mengatakan, bahwa dia ingin mendapatkan dukungan jaringan sosial dan budaya masyarakat batak daerah ini. Saya dan teman-teman yang terlibat percakapan dengan dia mengatakan bahwa untuk mendapatkan dukungan yang optimal dan mempunyai bargaining  atau daya tawar yang kuat dia harus mendapatkan dukungan itu dengan mengadakan semacam konvensi atau rapat umum.  Dengan konvensi ini diharapkan dukungan jaringan sosial dan budaya yang diharapkan itu menjadi kuat dan tidak terpecah.

Melalui tulisan ini saya ingin mengatakan kepada sahabat-sahabat pembaca blog yang berdomisili didaerah ini untuk dapat memberikan masukan mengenai konvensi yang direncanakan ini.  Bagi saya seandainya pun konvensi itu diadakan, panitianya harus independen dan terbuka untuk siapa saja yang merasa memenuhi syarat sebagai pemimpin.  Kendala lainnya selain panitia yang independen adalah bagaimana mendapatkan dana untuk mengadakan konvensi itu tanpa berimplikasi konflik kepentingan. Bagaiamana membuat format acara atau bagaimana menentukan kandidat yang menang adalah sebagian kecil dari tugas-tugas panitia nantinya karena itu diperlukan masukan dari sahabat-sahabat pembaca blog ini untuk kita teruskan kepada pihak-pihak yang berkompeten.

This entry was posted in Konvensi, Uncategorized. Bookmark the permalink.

5 Responses to KONVENSI

  1. Sumurung says:

    ini yang kita tunggu-tunggu lae, sudut pandang seorang praktisi HRD. jika konvensi ini jadi kita harapkan partisipasi lae lebih aktif lagi untuk proses seleksi kalau perlu lae kita ikutkan dalam tim penguji kandidat.

  2. Sehubungan dengan beberapa catatan lae Harison mengenai Konvensi dan Pemimpin, saya akan coba berikan pandangan saya sebagai praktisi sumber daya manusia yang setiap harinya terlibat dalam pengelolaan dinamika organisasi, yang salah satu isunya adalah PEMIMPIN.

    Sampai saat ini, sangat banyak literatur yang mencoba mendeskripsikan defenisi dari seorang pemimpin, sehingga kita tidak bisa mengambil hanya satu acuan saja.

    Beberapa pakar organisasi seperti Yulk (1994), lebih fokus kepada peran pemimpin dalam mencapai tujuan organisasi, sedangkan Hersey dan Blanchard (1988), lebih kepada peran pemimpin dalam “mempengaruhi” orang untuk mencapai tujuan organisasi dan Robbins (1998), lebih kepada bagaimana seseorang bisa bekerja melalui orang lain untuk mencapai tujuan dengan melakukan pengambilan keputusan, alokasi sumber daya dan mengarahkan aktivitas-aktivitas untuk pencapaian tujuan. Dan banyak lagi pendapat pakar lainnya dengan defenisi mereka masing-masing.

    Dari semua literatur dan praktek langsung di organisasi, berikut yang bisa saya sampaikan:

    Kalau berbicara mengenai Pemimpin (Leader), akan lebih gampang memahaminya jika kita bandingkan dengan seorang Pimpinan (Manager). Pemimpin belum tentu seorang Pimpinan, dan sebaliknya, Pimpinan belum tentu dapat menjadi seorang Pemimpin.

    Hal yang membedakan mereka pada umumnya adalah: Pemimpin (Leader): Do the right things, sedangkan seorang Pimpinan (Manager): Do the things right. Kalau dikaitkan dengan seleksi Pemimpin pada saat “Konvensi”, seharusnya sudah sangat jelas maksud dari statement di atas bukan? Silahkan anda perhatikan dalam lingkungan sehari-hari, baik itu komunitas profesional, gereja, sosial, hobby atau permainan. Akan ada sosok seseorang, meskipun dia secara dejure atau hierarki organisasi tidak menduduki jabatan tertentu, tetapi setiap dia memberikan pendapat atau ajakan, biasanya banyak yang bersedia mengikuti atau mendengarkan. Tetapi ada juga seseorang yang meskipun dia menjabat posisi tertentu pada suatu organisasi, seringkali pendapat dan ajakannya tidak didengarkan oleh anggotanya. Orang seperti inilah yang kita sebut A Manager but not A Leader.

    Dari penjelasan di atas bisa kita simpulkan lagi, seorang Pemimpin biasanya menggunakan teknik “mempengaruhi/influencing” dalam menggerakkan orang lain untuk dapat melakukan apa yang dia sampaikan. Sementara seorang Pimpinan/Manager, lebih kepada “perintah/Order”. Tentunya akan sangat efektif jika seorang Pimpinan, juga adalah seorang Pemimpin.

    Pertanyaan berikutnya? Apakah Pemimpin itu dilahirkan? TIDAK! Itu mitos yang tidak tepat. Pemimpin tidak dilahirkan dan setiap orang bisa belajar untuk menjadi seorang pemimpin. Namun tentunya membutuhkan proses yang lebih lama daripada menjadi seorang Pimpinan. Sebelum menjadi seorang Pemimpin yang bisa mempengaruhi (tanpa imbalan apa-apa), kita harus mampu mendapat kepercayaan terlebih dahulu. karena sesungguhnya “the essence of a leadership is TRUST”.

    So, pertanyaan berikutnya, bagaimana cara membangun TRUST (Kepercayaan)?. Berlaku adil pada semua orang, melakukan apa yang anda katakan (leading by example), tidak pilih kasih dalam segala hal (fairness), konsisten terhadap apa yang diucapkan (tidak oportunis dan berubah sesuai kepentingan), dan tentunya JUJUR. Jadi, kalau catatan Lae Harison mengatakan bahwa seorang Pemimpin harus takut akan Tuhan, absolutely CORRECT!. Orang yang tidak takut akan Tuhan, sepertinya akan sedikit kesulitan untuk dapat melakukan hal-hal di atas. Bukan begitu Lae Harison?

    Sedangkan teknis dalam melakukan proses rekrutmen seorang Pemimpin, dari sudut pandang profesional, tidak bisa dilakukan hanya dalam Konvensi. Sebelum konvensi, harus ada proses yang mendahuluinya. Misalnya dengan melakukan Fit & Proper Test. Namun sedikit lagi kritik terhadap proses Fit & Proper Test yang sering dilakukan di lembaga legislatif kita, prosesnya masih jauh dari harapan. Kalau kita simak, pertanyaan yang diajukan dari proses Fit & Proper Test yang dilakukan oleh lemabaga legislatif sangat banyak didahuli dengan kalimat “apa pendapat anda”, “apa yang akan anda lakukan”, “apa program anda”, “apa misi anda..”, “apa visi anda..” dst..dst.. Ini pertanyaan terbuka yang bisa dijawab setiap orang hanya dengan menggunakan common sense. Mohon maaf, anak lulusan SD juga sudah mampu memberikan pendapat dengan menggunakan common sense.

    Dalam proses rekrutment di dunia profesional, akan sangat berbeda, karena biasanya akan dimulai dengan kalimat, “apa yang telah anda lakukan”, “apa reaksi anda saat itu”, “apa yang anda rasakan”, “apa hasilnya”, dst..dst..

    Get the difference? Let’s do it!

    La Table, Ibis Pekanbaru (11:00 WIB, May 17 2009)
    Rudy Franto Manik

  3. Sumurung says:

    Kardo, Nalom, Rizal, Kiris dan kawan-kawan lainnya silakan kasih comment seperti kata kawan kita Nael.Ayolah!!..🙂

  4. Sumurung says:

    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
    Langsung ke: navigasi, cari
    Konvensi (bahasa Inggris: convention) dapat merujuk pada:
    Konvensi (rapat), suatu rapat besar.
    Konvensi (norma), suatu kumpulan norma yang diterima umum.
    Traktat, perjanjian, dll.

    Ahu pe bingung do pengertian konvension lae, alai setelah membaca pengertian diatas jadi mengerti sedikit. Pemimpin dalam alkitap sering dianalogikan dengan gembala dan aku setuju dengan itu lae. Daud juga sebelum memimpin pasukan israel adalah seorang gembala. Sudah agak sulit mencari pemimpin yang mampu seperti daud sekarang lae tetapi seperti kata lae, seorang pemimpin yang takut akan Allah pasti takut juga dengan hukum dunia ini sehingga kepemimpinannya pasti akan baik.

  5. Nathanael Nainggolan says:

    Ai dia do akka dongan ta on ate, holan hita dua do na jotjot masuk tu son..undang lae jo akka kedan i, dia do masukan nasida..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s