KONVENSI LAGI

 

Oleh Nathanael Nainggolan

nathanael-nainggolan1Agak bingung do ahu dalam istilah on, dia do na sintong, Konfessi atau Konvensi, mungkin harafiah nya bisa kita lihat di kamus etimologi bahasa.

Intinya kita setuju konfessi/konvensi ini (tentu dalam ruang lingkup yang kita maksud), idealnya memang, dimajukan beberapa kandidat sebagai seorang pemimpin. Alai (Tetapi) unang lupa hita, pemimpin adalah Talent, dan tidak semua orang otomatis bisa jadi pemimpin walaupun dia belajar teori kepemimpinan sampai tingkat S4 sekalipun.. Seperti belajar musik, walaupun seseorang menyelesaikan teori musik nya sampai level paling atas, belum tentu dia bisa menjadi seorang Bach/Paganini/Beethoven yang sama sekali tidak belajar teori musik.. karena musik bukan cuma bisa memainkan..tapi juga MERASAKAN dan yang paling perlu PENJIWAAN atas musik yang dimainkan sehinggan pesan yang ingin disampaikan lewat musik betul-betul SOLID ter eksplorasi ke pendengar sehingga pendegar/audiens betul-betul bisa menikmati pesannya tentu dengan penJIWAAN juga dan bukan sekedar mengingat refrein aja (atau lagu kamar mandi, angkot dan sejenisnya), karena memang tidak sama keindahan melody yang dimainkan walaupun lagu, notasi yang dimainkan dari buku yang sama. Demikian juga para atlit olahraga atau sepakbola misalnya, seorang striker walaupun teori dan porsi latihan yang mereka dapatkan dalam Pelatnas sama, tidak akan sama prestasi yang akan mereka dapatkan. Pasti ada yang memang betul-betul talent, dan tidak sedikit yang hangat-hangat di depan saja.

Begitu juga dengan kandidat pemimpin kita ini, karena menurut saya pemimpin adalah Talent, ai sian Debata do i, dang adong boi diusaha on ni jolma molo dang sian Debata. Untuk itu, mungkin perlu sedikit usul, hendaknya yang menjadi kriteria utama (ke 1) adalah takut akan Allah nya. Karena dari situlah bermula semuanya.
Kalau dari situ saja sudah tidak benar, bagaimana mungkin melangkah ke arah yang benar. Pemimpin sama dengan seorang Gembala.

Gembala yang baik tidak akan membiarkan dombaNya binasa, kelaparan dan berjalan tidak karuan dan selalu memberikan padang rumput savana yang subur dan luas untuk tempat makan para Dombanya. Gembala yang baik kalau perlu akan mempertaruhkan nyawaNya demi dombaNya. Kita tanya dalam hati, apakah kriteria itu ada dalam kandidat pemimpin kita?

Pemimpin tidak bisa dengan cuma menarik simpati saja, karena manusia cenderung menarik simpati karena ada maunya, dan ujung-ujungnya pun bisa ditebak. Proses simpati dimulai sejak belia. Tidak ada yang instan. Batang pohon yang sudah berumur puluhan tahun, tidak akan bisa berubah atau dibentuk model dahannya dalam tempo 2 tahun, ataupun 5 tahun, karena jika dibentuk berarti harus dikorbankan (dipotong). Yang bisa dibentuk di saat masih dipembibitan, apakah mau dibengkokkan dahannya, atau mau dibikin lurus. Jadi seseorang tidak akan berubah, dalam masa 2 tahun, 5 tahun, apalagi masa-masa kampanye… (Berarti perlu track record)

Menjadi pemimpin bukan soal dukungan dan ambisi pendukungnya. Karena bisa saja sudah terjadi proses bargaining di belakang. Kita pun harus jeli melihat dan mengevaluasi apa yang kita dukung sebenarnya, dan mau kemana dukungan ini dibawa. Jadi kita setuju pendapat Ki Hajar, tapi sempurnakanlah di “Akulah gembala yang baik”…siapakah dia, yang mendahulukan dombanya…..ikkon na mabiar tu Debata do…

Bottom of Form

 

This entry was posted in Konvensi, Penulis Tamu. Bookmark the permalink.

12 Responses to KONVENSI LAGI

  1. jimmy ambarita says:

    Saya rasa usul pak nainggolan bagus juga. Mungkin ke pihak luar kita silent saja, tapi perlu juga di “lingkungan dalam” agak meriah agar memancing rasa/keinginan untuk mendukung pemenang.
    Pertama: Salah satu tujuan konvensi memang agar yang terpilih memang didukung seluruh komunitas batak, jadi memang masyarakat harus mengetahui.
    Yang kedua: Perlu juga calon bupati yang mencari cawabupnya tau juga kekuatan calon kita.

  2. Nathanael Nainggolan says:

    Ok mauliate ma di akka usul hita saluhutna.

    Alai molo ahu hurang setuju do molo hita terlalu gegap gempita, alana hita nuaeng sedang menyusun strategi naeng “menyusup” kan halak kita gabe kandidat “PEMENANG” do, jadi na huboto molo strategi penyusupan dang pola ikkon terlalu disclosure, tapi justru tenang saja ibarat kekuatan yang siap setiap saat diperhitungkan. Jadi cukup di internal batak saja informasi ini, tidak perlu kita iklankan. Karena kalau kita terlalu ekspos, lawan akan mengetahui dan menyiapkan strategi juga, jadi kita jangan lupakan lawan juga punya kekuatan, dan kita juga punya kelemahan mendasar dari orang kita sendiri. Jadi usul ku, dibentuk format tim kecil terlebih dahulu yang beranggotan 10 -30 orang agar bisa menyusun format strategi yang tepat acara konfensi tersebut, karena kalau terlalu banyak jumlah nya yang ikut aku yakin akan semakin sulit kita fokus dalam pembentukan konfensi ini karena pasti akan terlalu banyak opini yang membuat kita jadi semakin buyar (tradisi hita sandiri). Jadi dari panitia kecil perumus ini, baru kita adakan acara konfensi yang sesungguhnya, dengan melibatkan banyak pihak. Tentu dengan beberapa kali tahapan pertemuan sampai ke acara puncak nantinya, yakni konfensi itu sendiri. Dan acara konfensi itu sendiri tetap harus dalam ruang lingkup habatakon kita sendiri, jadi tidak perlu kita ekspos, ai na naeng menyusun kekuatan do hita, alai tetap dalam ruang lingkup kebangsaan, demokrasi yang benar dan ridho Tuhan YME.

  3. Sumurung says:

    luar biasa lae.. nampaknya kita sudah sepakat mengenai rencana konvensi ini. lae jimmi sudah masuk dengan persoalan teknisnya. sebagai langkah awal, jimmy,marnalom,nathanael,harryson dan ricardo serta kawan-kawan yang lain, coba kita buat semacam proposal dan rincian teknis untuk acara konvensi ini. aku yakin kita pasti bisa!!.. untuk itu kita harus bagi-bagi tugas biar tidak terlalu membebani.

  4. jimmy ambarita says:

    skenario konvensi yang mungkin dapat kita jalankan seperti ini :
    1. ditentukan tanggal rapat umumnya, mungkin kira-kira tiga hari. kalau kita buat acaranya bulan agustus, mungkin ada baiknya penutupannya tgl 17 Agustus (asa rame!).
    2. Promosi acara ini harus dibuat dengan sangat meriah. dengan spanduk2 maupun dengan pengumuman di radio misalnya. acara ini dipromosikan 2 bulan sebelumnya secara berturut2 setiap hari. bila perlu dimasukkan koran pekanbaru pos..
    3. Kalau acara sampai 3 hari dan peserta rapat (voters) sampai 400 orang, maka dana yang dibutuhkan bukan sedikit. mungkin sampai Rp 100 juta, termasuk untuk sewa gedung, musik, makanan, dll.
    4. Dana pemasukan adalah dana registrasi setiap personal peserta kontes (boleh dana pribadi atau patungan dengan teman-teman pendukung). Kalau peserta 20 orang, maka masing2 mengeluarkan dana Rp. 5jt. ini berguna juga supaya yang ikut bukan sembarang orang dan memang punya penyokong dana.
    5. acara rapat umum memang harus digodok agar fair dan adil. mungkin harus dibuat tahapan, misalnya dari 20 orang diambil 10 terbanyak, setelah itu tahap berikutnya dipilih 3 orang pemenang. dari suara terbanyak.
    6. ke tiga orang ini lah nantinya yang berhak diikutkan ke pencalonan bupati/wabup. Dan akan disponsori ke parpol2 sebagai calon orang batak.

    Apabila acara tsb bisa kita buat gegap gempita, maka mudah2an calon kita bisa menang di ajang pemilihan apa pun itu.

    ada tambahan masukan??

  5. Nathanael Nainggolan says:

    S1 ok..tapi perlu juga rasanya tes psikologi..

  6. Nathanael Nainggolan says:

    Ai Bupati ta S2 do..molo songon i ahu S krim ma.. ha ha horas

  7. Sumurung says:

    strata pendidkan tidak menunjukkan kualitas lae tapi kalau dibuatkan standar s1 sebagai syarat setuju aku.perusahaan saja kalau merekrut pekerja ada standard pendidikannya.🙂

  8. Nathanael Nainggolan says:

    Jala muse ikkon S2 do Bupati dohot WaBup..

  9. Nathanael Nainggolan says:

    Ha ha ha..holan margaet saja lae ini…o tahe…ta mekkel ni dainang…

  10. Sumurung says:

    pilpress do? manang pilkada? kalau mega ambil prabowo sebagai cawapres, aku pindah kelain hati.😦 aku pilih jusuf kala atau sultan saja.. pilkada aku pilih nathanael nainggolan.🙂 ini serius!!.. kalau dibandingakan dengan wabut sekarang saja sudah pasti dia lebih baik, apalagi dengan kandidat2 nggak jelas nanti.

  11. Nathanael Nainggolan says:

    Rap ta bereng ma dalam waktu berjalan, ise do na naeng ta pamaju asa mewakili aspirasi ta tu jolo ni ari on. Na penting..na manghabiari debata do, jala track record na jelas mulai sian lahir…dang na holan kemarin sore.

  12. jimmy ambarita says:

    Konvensi adalah jalan yang baik apabila satu kumpulan atau partai ingin agar calonnya yang dimajukan di pilda/ pilpres. Konvensi yang membuat pertarungan kader-kader terpilih dalam satu parpol untuk dicalonkan sebagai calon presiden, seperti Obama merupakan marketing politik yang sangat manjur.

    Sekarang, kita mau adakan konvensi untuk kalangan yang mana nih? saya mendukung saja.
    Siapa saja calon-calon kita??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s