Parpol

Oleh Jimmy Ambarita

jimi1Menyikapi manuver politik di Jakarta untuk Pilpres, saya merasakan bahwa tidak ada idealisme para petinggi Negara termasuk partai politik. Semuanya haus akan kekuasaan saja tanpa memikirkan nasib bangsa. Partai politik hanya mesin bagi pribadi-pribadi untuk mencapai kekuasaan tanpa memiliki ideologi yang kuat.

Kalau diperhatikan di pusat maupun di daerah, pada saat-saat tidak ada persiapan pemilihan umum maupun pemilihan daerah, kegiatan partai politik seakan vakum. Apalagi di daerah, sejumlah kantor partai hanya tertutup tanpa ada kegiatan. Dari sini dapat kita ambil kesimpulan bahwa memang secara reguler partai tidak berfungsi sebagai kontrol sosial dan kontrol politik.

Penentuan caleg patai juga tidak melalui penyaringan yang benar. Dapat dilihat dari caleg yang mengikuti pemilu lalu, banyak yang tidak kompeten secara politik dan sosial. Banyak juga kita lihat perpindahan kader dari satu partai ke partai yang lain dengan alasan yang lebih bersifat faktor kekuasaan saja. Dan yang paling tragis lagi bahwa nomor urut caleg partai dapat diperjual-belikan.

Kalau memang budaya masyarakat kita yang seperti ini, maka sebaiknya partai politik dibubarkan saja semua. Kita kembali ke jaman Yunani Kuno yang menciptakan demokrasi tanpa harus memiliki partai-partai sehingga keberadaan individu-individu yang menonjol. Walau pun dengan resiko bahwa orang-orang kaya saja yang dapat duduk di lapisan kekuasaan. Bukan-kah sekarang juga hal demikian sudah terjadi?

Dan yang penting juga, bahwa masyarakat diberikan pendidikan politik yang benar, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Kurikulum sekolah memberikan pendidikan politik yang netral dan ideal bagi murid-murid sekolah serta media massa juga memberikan masukan yang positif tentang politik bagi masyarakat luas. Masyarakat diberikan gambaran akan kinerja partai atau pemerintah yang bersifat jangka panjang, bukan hanya sesaat saja, agar masyarakat tidak mau lagi ditipu dengan uang Rp. 20.000-an.

Jadi, siapa yang setuju partai politik dihapuskan saja??

 

This entry was posted in Penulis Tamu. Bookmark the permalink.

4 Responses to Parpol

  1. Nathanael Nainggolan says:

    mohon maaf , ralat TULALTI sebenarnya TULALIT

  2. Nathanael Nainggolan says:

    tambahan lagi, yang kita masuki sekarang ini saya rasa bukannya lagi menjadi negara demokrasi, tapi sudah DEMOCRAZY…benar-benar edan, anggota dewan edan, calon legislatif pun edan.. makanya jadi DEMOCRAZY, semua merasa mampu…mampu nyolong, mampu edan.

  3. Nathanael Nainggolan says:

    Molo ahu lebih setuju parpol itu di rampingkan kuantitasnya, biar lebih efektif menjadi 3 – 4 Parpol saja, biar lebih efisien, dan berkualitas orang-orang nya. Karena terbukti sudah bahwa sistem multi partai seperti sekarang bukannya membawa perbaikan bagi masyarakat Indonesia. Kita baru mengenal demokrasi sejak tahun 1945, sedangkan negara lain yang lebih maju dari segi apapun dari kita tidak menggunakan sistem multi partai-partai (karena lebih dari 10 partai..) seperti sekarang (seperti banyak aja orang/negarawan yang berkualitas di negara kita ini!). Karena di negara kita banyak orang yang tidak bisa bercermin, yang tidak tahu kemampuan dirinya. Karena tidak merasa diwakili dan dizalimi, maka langsung bikin partai biar ada posisi tawar, dan bahkan jadi alat untuk mencapai tujuan pribadi (rap ta boto do akka ise on ).
    Karena intinya kita belum dewasa…belum sama seperti negara-negara lain.. kualitas mental dan pendidikan bangsa kita belum dewasa..inilah pelajaran buat kita generasi muda sekarang..
    Coba kita lihat program Otonomi Daerah atau Otsus (yang katanya akan membawa kesejahteraan buat orang daerah??) Apa benar kita orang daerah sejahtera?? Hanya ELITE DAERAH saja yang sejahtera, tapi kalau rakyat marginal ya begitu saja.. Elite daerah sibuk bikin proyek-proyek untuk kepentingan pribadi, kelompoknya dan PARTAINnya, semuanya proyek mercu suar…yang tidak memberikan faedah bagi rakyatnya..Harusnya proyek yang dibenahi adalah infrastruktur : jalan desa, listrik, kesehatan, BUKAN nya gedung megah, terminal besar dan megah, kantor yang besar, yang terakhir malah dihuni oleh hantu gentayangan..semuanya dipaksakan… gimana mau jalan kesana sementara jalan tidak ada, listrik belum tersalurkan, kabel telepon belum tersambung.. birokrasi TULALTI, bagaimana Swasta dan INVESTASI ASING mau masuk, beha dooooooo….rundut do mamikiri on …jadi selagi kualitas pimpinan kita seperti itu..ala hualam lae……apalagi di propinsi kita ini…ala hualam…ala hualam..bukan menyerah lae..tapi harus kita perjuangkan..kita yang muda lah yang bisa merubah itu, kalau tidak siapa lagi. Semoga Tuhan mendengar dan mengabulkan doa kita ini.

  4. Sumurung says:

    wah.. menarik tulisan lae jimmy ini. bagi aku parpol masih kita perlukan sebagai salah satu pilar demokrasi.parpol seharusnya berfungsi untuk menampung aspirasi rakyat, menyampaikan aspirasi tadi dan sebagai pengawas jalannya pemerintahan. Masalahnya parpol-parpol diindonesia ini tidak bekerja sebagaimana mestinya. aku pikir itu yang buat lae jimmy marah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s