Pemimpin vs Pimpinan

RudySehubungan dengan beberapa catatan lae Harison mengenai Konvensi dan Pemimpin, saya akan coba berikan pandangan saya sebagai praktisi sumber daya manusia yang setiap harinya terlibat dalam pengelolaan dinamika organisasi, yang salah satu isunya adalah PEMIMPIN.

 

Sampai saat ini, sangat banyak literatur yang mencoba mendeskripsikan defenisi dari seorang pemimpin, sehingga  kita tidak bisa mengambil hanya satu acuan saja.

 

Beberapa pakar organisasi seperti Yulk (1994), lebih fokus kepada peran pemimpin dalam mencapai tujuan organisasi, sedangkan Hersey dan Blanchard (1988), lebih kepada peran pemimpin dalam “mempengaruhi” orang untuk mencapai tujuan organisasi dan Robbins (1998), lebih kepada bagaimana seseorang bisa bekerja melalui orang lain untuk mencapai tujuan dengan melakukan pengambilan keputusan, alokasi sumber daya dan mengarahkan aktivitas-aktivitas untuk pencapaian tujuan. Dan banyak lagi pendapat pakar lainnya dengan defenisi mereka masing-masing.

 

Dari semua literatur dan praktek langsung di organisasi, berikut yang bisa saya sampaikan:

 

Kalau berbicara mengenai Pemimpin (Leader), akan lebih gampang memahaminya jika kita bandingkan dengan seorang Pimpinan (Manager). Pemimpin belum tentu seorang Pimpinan, dan sebaliknya, Pimpinan belum tentu dapat menjadi seorang Pemimpin.

 

Hal yang membedakan mereka pada umumnya adalah: Pemimpin (Leader): Do the right things, sedangkan seorang Pimpinan (Manager): Do the things right. Kalau dikaitkan dengan seleksi Pemimpin pada saat “Konvensi”, seharusnya sudah sangat jelas maksud dari statement di atas bukan? Silahkan anda perhatikan dalam lingkungan sehari-hari, baik itu komunitas profesional, gereja, sosial, hobby atau permainan. Akan ada sosok seseorang, meskipun dia secara dejure atau hierarki organisasi tidak menduduki jabatan tertentu, tetapi setiap dia memberikan pendapat atau ajakan, biasanya banyak yang bersedia mengikuti atau mendengarkan. Tetapi ada juga seseorang yang meskipun dia menjabat posisi tertentu pada suatu organisasi, seringkali pendapat dan ajakannya tidak didengarkan oleh anggotanya. Orang seperti inilah yang kita sebut A Manager but not A Leader.

 

Dari penjelasan di atas bisa kita simpulkan lagi, seorang Pemimpin biasanya menggunakan teknik “mempengaruhi/influencing” dalam menggerakkan orang lain untuk dapat melakukan apa yang dia sampaikan. Sementara seorang Pimpinan/Manager, lebih kepada “perintah/Order”. Tentunya akan sangat efektif jika seorang Pimpinan, juga adalah seorang Pemimpin.

 

Pertanyaan berikutnya? Apakah Pemimpin itu dilahirkan? TIDAK! Itu mitos yang tidak tepat. Pemimpin tidak dilahirkan dan setiap orang bisa belajar untuk menjadi seorang pemimpin. Namun tentunya membutuhkan proses yang lebih lama daripada menjadi seorang Pimpinan. Sebelum menjadi seorang Pemimpin yang bisa mempengaruhi (tanpa imbalan apa-apa), kita harus mampu mendapat kepercayaan terlebih dahulu. karena sesungguhnya “the essence of a leadership is TRUST”.

 

So, pertanyaan berikutnya, bagaimana cara membangun TRUST (Kepercayaan)?. Berlaku adil pada semua orang, melakukan apa yang anda katakan (leading by example), tidak pilih kasih dalam segala hal (fairness), konsisten terhadap apa yang diucapkan (tidak oportunis dan berubah sesuai kepentingan), dan tentunya JUJUR. Jadi, kalau catatan Lae Harison mengatakan bahwa seorang Pemimpin harus takut akan Tuhan, absolutely CORRECT!. Orang yang tidak takut akan Tuhan, sepertinya akan sedikit kesulitan untuk dapat melakukan hal-hal di atas. Bukan begitu Lae Harison?

 

Sedangkan teknis dalam melakukan proses rekrutmen seorang Pemimpin, dari sudut pandang profesional, tidak bisa dilakukan hanya dalam Konvensi. Sebelum konvensi, harus ada proses yang mendahuluinya. Misalnya dengan melakukan Fit & Proper Test. Namun sedikit lagi kritik terhadap proses Fit & Proper Test yang sering dilakukan di lembaga legislatif kita, prosesnya masih jauh dari harapan. Kalau kita simak, pertanyaan yang diajukan dari proses Fit & Proper Test yang dilakukan oleh lemabaga legislatif sangat banyak didahuli dengan kalimat “apa pendapat anda”, “apa yang akan anda lakukan”, “apa program anda”, “apa misi anda..”, “apa visi anda..” dst..dst.. Ini pertanyaan terbuka yang bisa dijawab setiap orang hanya dengan menggunakan common sense. Mohon maaf, anak lulusan SD juga sudah mampu memberikan pendapat dengan menggunakan common sense.

 

Dalam proses rekrutment di dunia profesional, akan sangat berbeda, karena biasanya akan dimulai dengan kalimat, “apa yang telah anda lakukan”, “apa reaksi anda saat itu”, “apa yang anda rasakan”, “apa hasilnya”, dst..dst..

 

Get the difference? Let’s do it!

 

La Table, Ibis Pekanbaru (11:00 WIB, May 17 2009)

Rudy Franto Manik

This entry was posted in Penulis Tamu. Bookmark the permalink.

2 Responses to Pemimpin vs Pimpinan

  1. Ricardo P Hutahaean says:

    Saya sepakat. Ini ide yang bagus sebagai literatur dalam memimpin suku batak nantinya. Sewaktu membaca tulisan ini terkait dengan “apa yang telah anda lakukan saya jadi teringat dengan raja Batak Sisisngamangaraja XII. Apa yang telah Sisingamangaraja XII lakukan? Bagaimana dia memimpin suku batak sehingga sangat susah kekuatan luar untuk menjajah suku batak? Silakan dibaca di:

    http://www.silaban.net/2006/06/22/riwayat-singkat-raja-sisingamangaraja-xii/

    Ada kekuatanya raja batak yang satu ini yang menjadi pelajaran kita orang batak kalau mau jadi pemimpin kumpulan yang sukses.

    1. “Berani” sejalan dengan ketegasanya.
    2. Tidak mau kompromi terhadap perbudakan(Apa pun itu jenisnya termasuk perbudakan oleh “mamon”).
    3. Toleran terhadap perbedaan pendapat/pandangan.
    4. Cinta dengan rakyat/orang yang dia pimpin
    5. Siap bekerja sama dengan siapapun walaupun beda budaya dan agama guna mencapai tujuan utama.
    6. Tidak dendam(walau ayahnya sisingamangaraj XI dibunuh penyebar agama islam, ini sejarah)
    Dan banyak lagi yang bisa anda uraikan sendiri.

    Tapi sifat yang menonjol bisa menjadikan kelemahan bagi hampir semua orang batak kalau dia memimpin dan ini didapatkan oleh belanda yaitu:
    Rasa cinta yang teramat dalam dengan keluarganya sehingga lupa akan perjuangannya. Ini sifat orang batak yang sering buat dia bersinggungan dengan tujuan awal.

    Ini hanya penyemangat saja tentang Karakter orang batak dalam kekuatan dan kelemahanya dalam memimpin. Jadi saya yakin kita orang batak bisa jadi pemimpin seperti yang dilakukan Ompu Sisingamangaraja XII menyatukan perjuangan Aceh dan Minang Kabau melawan Tirani.

  2. jimmy ambarita says:

    Pendapat Pak Rudy sangat baik dan dapat menjadi masukan bagi kita.

    Penyeleksian calon PEMIMPIN sebaiknya berdasarkan apa yang telah mereka lakukan selama ini. dan untuk ke depan program apa yang dapat mereka terapkan sesuai dengan pengalaman selama ini.

    Terima kasih atas masukannya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s