Quo Vadis Kabupaten Mandau?

Oleh SumurunG

kabupaten mandauKabupaten Mandau yang sangat dirindukan oleh masyarakat Mandau dan Pinggir selama ini sudah menjadi mimpi buruk karena hampir tidak mungkin lagi untuk direalisasikan. Baru-baru ini kabupaten Meranti baru saja dimekarkan dan sudah dibentuk pemerintahan sementara serta kabupaten bengkalis sebagai kabupaten induk juga telah memberikan anggaran yang cukup untuk kabupaten baru tersebut. Hal itu tentu saja sangat menyakitkan buat para pejuang kabupaten mandau karena mereka yang selama ini berjuang untuk mendapatkan status kabupaten ternyata Meranti-lah yang pertama sekali dimekarkan menjadi kabupaten baru. Ini menunjukkan tidak adanya keinginan dari para elit dikabupaten bengkalis dan elit provinsi riau untuk menjadikan mandau menjadi sebuah kabupaten. Yang dilakukan oleh para elit kabupaten Bengkalis dan Provinsi Riau adalah berusaha agar daerah mandau ini tidak menjadi kabupaten. Usaha-usaha dilakukan secara sistematis dan menghalalkan segala cara seperti, berusaha membuat daerah mandau ini menjadi lebih kecil secara geografis. Modusnya adalah dengan membuat kabupaten rokan hilir, mengeser batas wilayah dengan kabupaten siak dan kota madya dumai menjadi lebih besar sedangkan daerah mandau dikondisikan manjadi lebih kecil. Usaha-usaha sistematis untuk mengagalkan terbentuknya kabupaten ini akhirnya menjadi senjata makan tuan karena akhirnya luas wilayah mandau menjadi lebih besar dari pada bengkalis serta jumlah penduduk menjadi jauh lebih banyak dari pada penduduk Bengkalis padahal daerah mandau dan bengkalis tidak berbatas langsung.

Setiap kali masyarat daerah ini menuntut pemekaran wilayah para elit kabupaten ini, selalu membuat proyek-proyek mercusuar untuk membungkam aspirasi masyrakat, seperti, membuat lampu jalan, merenovasi kantor camat, kantor kelurahan dan terakhir yang dilakukan adalah membuat kecamatan baru. Walaupun begitu amanat presiden untuk membahas rancangan undang-undang kabupaten mandau ternyata keluar juga untuk dibahas di DPR tetapi hasilnya kabupaten mandau gagal dan kabupaten meranti sukses. Kalau saja pemerintah pusat dan DPR mengunakan akal sehatnya dengan melihat posisi geografis daerah mandau dan bengkalis ini tentulah mereka dengan cepat memekarkan mandau menjadi kabupaten. Jika dilihat dari aspek perundang-undangan yaitu undang-undang Nomor 32 tahun 2004 pasal 5 ayat 3,4 dan 5 mengenai persyaratan pembentukan daerah baru. Kegagalan pembentukan kabupaten mandau ini adalah karena persyaratan administrasi seperti, surat rekomendasi dari bupati dan dprd kabupaten serta rekomendasi dari gubernur dan dprd provinsin serta rekomendasi menteri dalam negeri tetapi jika dilihat dari persyaratan teknis  yang   mencakup faktor  kemampuan  ekonomi,  potensi  daerah,  sosial  budaya,  social politik,kependudukan, luas daerah,pertahanan,keamanan,dan faktor lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah, daerah mandau sudah sangat layak untuk menjadi kabupaten. Terakhir adalah syarat fisik yaitu paling  sedikit  5  (lima)  kecamatan  untuk  pembentukan  kabupaten, dan   4   (empat)   kecamatan   untuk pembentukan   kota,   lokasi   calon ibukota, sarana, dan prasarana pemerintahan.  Untuk syarat yang terakhir ini juga memang daerah mandau belum memenuhi persyaratan. Dari ketiga syarat yang diwajibkan oleh undang-undang No.32 Tahun 2004 ini, kelihatan bahwa syarat yang berhubungan dengan kabupaten induk pasti tidak terpenuhi alias bermasalah. 🙂

Bagi saya pemekaran daerah itu syarat yang paling utama adalah harus mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat. Jika sebuah pemerintahan daerah kabupaten tidak mampu memberikan pelayanan optimal karena permasalah jarak sudah sepantasnyalah kabupaten itu dimekarkan, apalagi secara demografis daerah yang akan dimekarkan itu lebih banyak dari pada daerah kabupaten induk. Saya sedang menunggu-nunggu usaha-usaha apa lagi yang akan dilakukan oleh kabupaten bengkalis dan provinsi riau untuk menggagalkan pembentukan kabupaten mandau atau usaha apa lagi yang dilakukan oleh masyarat mandau dan pinggir untuk memekarkan diri dari Bengkalis.🙂 Dengan kondisi geografis dan demografis saat ini serta kalau saja masyarakat mandau bersatu, tentu sangat mudah untuk memekarkan diri. Langkah pertama adalah semua masyarakat mandau dan pinggir memilih bupati dan wakil bupati yang pro pemekaran setelah itu mereka harus mengeluarkan surat rekomendasi pemerkaran dan membuat kecamatan-kecamaan baru. Sangat mudah bukan??..

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

5 Responses to Quo Vadis Kabupaten Mandau?

  1. Jimmy says:

    Untuk itu perlu peran serta kita di dalam forum kita untuk nantinya juga mengarah ke pemekaran mandau.

  2. Nathanael Nainggolan says:

    Itulah mental birokrat lae ku, entah kapan mau maju bangsa ini, memang dikondisikan supaya terus begini, karena menyangkut kepentingan segolongan orang. Untuk itu kita jangan sampai salah pilih di PILPRES ini, harus yang mau merubah mental yang demikian, apalagi dengan perlindungan Perda-Perda yang mengakibatkan banyak raja-raja kecil di daerah ini seolah tak tesentuh. Jangan salah pilih, ada 1 kandidat yang jelas kemarin akan memangkas perda-perda yang salah kaprah seiring otda ini…Jangan salah pilih

  3. Ricardo P Hutahaean says:

    merdeka… merdeka… merdeka…
    gass…(pinjam istilah)

  4. Sumurung says:

    pertimbangan pemekaran itu sudah nggak pakai akal sehat lagi lae. sudah jelas2 mandau ini secara geografis tidak bersatu tetapi tetap dipaksakan supaya bergabung dengan bengkalis. seperti lae sampaikan diatas mengurus akte kelahiran saja harus melakukan perjalanan 1 hari, itupun belum tentu selesai. belum lagi ususan lainnya seperti imb, dokumen2 resmi perusahaan seperti, siup, tdp dan lain-lain. anehnya, asosiasi badan usaha seperti kadin, gapensi dan lain-lain itu ikut-ikutan pulak kayak birokrat.🙂

  5. Nathanael Nainggolan says:

    Sedari dulu kita yang masih kecil aja sudah sangat absurd menilai jika untuk pengurusan KTP, KK dan urusan birokrasi pemerintahan harus melewati kota Dumai (yang notabene kota Administratif tersendiri) ke Bengkalis. Sangat aneh????!!!! Bagaimana mungkin pegawasan, penindaklanjutan, implementasi pembangunan, apalagi pembangunan mental bisa bagus jika Kabupaten Induk saja harus kita tempuh dengan perjalanan seharian??? Sedangkan ke Padang atau Medan saja sebagai ibukota propinsi di luar Riau bisa ditempuh 9 jam, sementara ini namanya ibukota kabupaten sendiri ditempuh dengan waktu yang hampir sama. Malah kalau boleh bilang udah lebih dekat ke Pekanbaru daripada ke Bengkalis. Atau bagaimana sekiranya ibukota propinsi Riau bukan di Pekanbaru, tetapi di Bengkalis sekalian biar sama jauhnya???
    Kita yang masih sekolah di SD aja waktu itu sudah merasa ANEH.Atau kalaupun susah sekali, dipindahkan saja ibukota Kab.Bengkalis ke Kec.Mandau.
    Tetapi memang semuanya itu tidak lepas dari kepentingan para pejabat dan elite politik Riau ini sendiri. Tiada yang lain. Memang sengaja diciptakan kondisi agar Mandau tetap cuma jadi kecamatan agar bisa dieksploitasi seterusnya demi kepentingan tersebut. Karena ini menyangkut status kabupaten Induk yang sama sekali tidak memiliki sumber daya baik alam dan terlebih sumber daya manusia nya. Alasan yang kerap dikemukakan oleh para elite adalah tidak mungkin membiarkan kabupaten Bengkalis mati oleh karena miskin sumber daya merupakan alasan yang tidak logis. Kenapa Tanjung Pinang bisa jadi KEPRI, atau Batam bisa ber otonomi sendiri? Jadi sebenarnya alasan yang dibikin sangat tidak masuk akal. Kita juga sepakat kalau bisa daerah yang memiliki sumber daya bisa memberikan kontribusi kepada daerah yang kurang beruntung, namun harus dilihat secara berimbang. Namun kenapa Meranti bisa dimekarkan??
    Satu lagi isu yang sering dikemukakan adalah bahwa keinginan menjadi kabupaten Bengkalis adalah keinginan sekelompok orang saja, dan orang yang dimaksud adalah para pendatang, bukan orang asli Riau. Sangat bermuatan SARA..padahal kampanye PILPRES saja ada undang-undang yang melarang black campaign yang melarang menggunakan atribut SARA dalam kampanye. Padahal setiap warga negara memiliki hak yang sama selagi tinggal di negara Republik Indonesia.
    Padahal kita yang lahir di Mandau, malah udah lebih 55 tahun dan menjadi saksi hidup bagaimana perkembangan kec.Mandau ini sangat prihatin. Kita justru ingin membangun kecamatan Mandau ini ke arah yang lebih baik. Dan kita pun siap bersinergi dengan segala pihak yang benar-benar ingin memajukan daerahnya. Memang itulah kesombongan manusia, dia tidak sadar bahwa hidup tidak selamanya dan bahwa dia pun akan mati, hartanya pun tidak akan sanggup menolong dia dari kematian.
    Untuk itulah kesatuan dari seluruah komponen masyarakat Mandau sangat diperlukan, karena tanpa kesatuan kita tidak akan mampu melakukan yang terbaik buat daerah Mandau.
    Mari kita doakan agar Pilpres yang terpilih nanti dan para pejabat yang memimpin, adalah yang memiliki hati nurani, dan bukan kesombongan demi kepentingan kelompok dan pribadi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s