BBS

Beberapa hari  ini saya melihat pemandangan yang tidak biasa, dimana beberapa mobil yang parkir dikedai tempat kita biasa sarapan saya melihat banyak mobil parkir dengan tidak lazim. Biasanya mobil-mobil yang parkir dikedai ini dengan posisi menghadap kedepan sedangkan kali ini hampir semua mobil parkir dengan posisi mundur. Biasaya di duri  parkir mundur itu diterapkan dilokasi kerja dengan alasan safety namun sekarang hampir semua mobil-mobil perusahaan yang dipakai keluar oleh pegawai perusahaan tertentu sepertinya diwajibkan untuk menerapkan parkir mundur meskipun berada diluar wilayah kerja dan tidak digunakan untuk menjalankan pekerjaan seperti ketika sarapan pagi.  Fenomena apa lagi ini? 🙂

Saya coba untuk menanyakan hal ini kepada seorang yang mengemudikan kendaraan perusahaan tersebut, “apakah ini atas perintah dan apakah ada sanksinya?” Ternyata memang ini atas kebijakan perusahaan dan bisa dikenakan sanksi jika tidak menerapkan parkir mundur setiap saat saat mengemudikan mobil perusahaan. Menurut seorang sahabat yang saya tanyakan apa urgensinya kendaraan itu harus diparkir mundur, ternyata katanya lebih mudah untuk bergerak maju dari pada mundur terlebih-lebih jika dalam keadaan mendesak.  Saya pikir mungkin inilah maksudnya BBS(behavior based safety) itu? Safety menjadi behavior dimana saja dan kapan saja.

Saya tidak mengetahui persis apa model digunakan untuk menerapkan BBS ini tetapi berdasarkan bacaan yang saya punya mengenai behavior ini ada beberapa alasan yang harus dipenuhi sebelum sebuah action menjadi behavior.  Modelnya adalah sbb:

Theory of Reasoned Action Model.

Model ini hanya perkiraanku saja, jadi pasti ini bukan dasar dari perusahaan itu membuat bbs tersebut. 🙂 Buat kawan-kawan yang membaca tulisan ini dan mengetahuinya mohon share dengan kita disini. 🙂  Setidaknya model dibawah ini menunjukkan sebuah proses untuk membentuk behavior. Berikut ini adalah penjelasannya: BBS

Berdasarkan teori ini paling  tidak ada tiga tahap yang harus dilakukan untuk dapat menerapkan Behavior based safety seperti terlihat pada  gambar diatas yaitu;

  1. Alasan untuk perilaku yang diharapkan. Dalam kasus BBS ini alasannya adalah bahwa safety atau keamaan itu terbukti secara empiris dan teori menghasilkan sistem kerja yang lebih baik dan produktifitas lebih baik dan efisiensi lebih baik juga.
  2. Safety atau keamanan tadi menjadi  kebiasaan.
  3. Setelah menjadi  kebiasaan yang dilakukan terus menerus sehingga perilaku itu menjadi sesuatu menjadi keharusan dan dinyakini menjadi sebuah kebenaran

 Ini tidak terjadi dalam waktu yang singkat, diperlukan komitmen yang tinggi sekali dari semua komponen yang ada didalam perusahaan tersebut terutama komitment dari top management sehingga efeknya bisa langsung terasa sampai kebawah. Jadi selama safety  dilakukan karena takut terkena sanksi maka artinya safety itu belum menjadi behavior tetapi hanya sebuah keterpaksaan.  🙂

This entry was posted in Diskusi, Pratik Bisnis. Bookmark the permalink.

2 Responses to BBS

  1. SumurunG says:

    setuju lae. sadar bahwa safety itu suatu perilaku yang kalau dilakukan berguna buat diri sendiri, berguna juga buat orang lain jadi bukan karena peraturan atau takut kena hukum.

  2. Jimmy Ambarita says:

    Tulisan ini sangat menarik dan penting. Ternyata perilaku safety itu lebih penting dari pada peraturannya sendiri.

    Bravo pak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s