Safety need versus Basic need

Beberapa waktu yang lalu aku bercakap-cakap dengan seorang sahabat yang sudah cukup lama tidak bertemu, ternyata sekarang dia bekerja sebagai seorang tukang cat profesinal.  Percakapan kami lakukan disela-sela istirahat ketika dia melaksanakan tugasnya sebagai seorang tukang cat. Dia lebih banyak berkeluh kesah mengenai pekerjaan yang dia geluti walaupun kadang-kadang dia bercerita tentang hal-hal mengembirakan dalam menjalankan tugasnya. Saya jadi tahu kalau tukang yang bekerja dikompleks chevron itu sifafnya freelance karena mereka mendapatkan pekerjaan dan gaji jika ada yang menawarkan pekerjaan kepada mereka.  Sahabat ini juga bercerita kalau pekerjaan yang dilakukan ini menjadi berat karena aturan-aturan yang dibuat oleh perusahaan chevron dimana lokasi kerja mereka berada.  Aturan-aturan itu menambah biaya kerja mereka yang pada akhirnya bisa mengurangi pendapatan mereka. Aturan yang dimaksudnya disini adalah aturan mengenai safety, health and environment. Katanya kepada saya,” bayangkan saja son(baca:harryson), untuk pekerjaan yang harusnya selesai 4 hari menjadi 7 hari karena aturan-aturan yang tidak perlu itu” .  

Ini memang sulit. Satu pihak membutuhan akan pendapatan yang layak sedangkan dipihak lainnya memaksakan kebutuhan safety. Pihak yang memaksakan safety itu memiliki power untuk memaksa pihak lainnya . J  Pertanyaan aku sama dia,”trus bagaimana kalian menutupi biaya-biaya itu?”. Ternyata seperti saya duga, ujung-ujungnya pasti berpengaruh pada kualitas perkerjaan. :D  “Banyak caranya son” katanya.  Bisa dengan membuat cat lebih encer sehingga cat berlebih dan bisa dijual kembali,  yang lebih parahnya, dia bisa kompromi dengan pengawas dan pemilik proyek bahkan dengan penguna rumah. J

Safety need ini memang bisa dipaksakan tetapi harus diingat apapun yang dipaksakan pasti akan menimbulkan rasa tidak puas yang pada akhirnya bisa merusak. Saya sendiri percaya dengan “hierarchy of need-nya maslow” yang mengatakan kebutuhan itu memiliki hirarkhy sesuai dengan kondisi dari orang yang bersangkutan. Ketika dia berkutat dengan masalah basic need maka dia tidak akan atau belum memikirikan masalah safety need.  Makanya begitu  saya  tahu sahabat itu  “cheating”, saya mengerti dan mengatakan supaya hati-hati.😉

This entry was posted in Praktik Bisnis, Safety Health and Enviroment. Bookmark the permalink.

4 Responses to Safety need versus Basic need

  1. Jimmy Ambarita says:

    pak, saya butuh tulisan terbaru dari Bapak..
    please pak..

  2. Nathanael Nainggolan says:

    Yah begitulah namanya kondisi sekarang ini, memang secara tidak langsung bikin kita mendua hati.. sulit kadang menjabarkannya.. tapi ya itu tadi kembali soal need & needed…
    Idealnya harus berbanding lurus… bagaimanapun uang/materi pun tidak ada artinya jika kita pun celaka, sakit ataupun mati sekalipun, krn modal kita bekerja adalah diri kita yang selamat dan sehat..tidak mungkin kita bisa bekerja jika kita mati/sakit atau celaka. Soal Safety dan Kesehatan tetap harus nomor satu, namun tuntutan itu tentu harus dibayar proporsional juga dengan upah yang harus diterima.. saya masih teringat ketika itu masih tinggal di camp sktr tahun 91 dan rumah camp kita di cat rutin, salah satu pekerja jatuh dari ketinggian dan akibatnya mengalami patah tangan dan kaki yang membuatnya pun akhirnya tidak bisa bekerja kembali. Untung saja saat itu pas jam makan siang sehingga bisa segera diantar ke RS. Saat itu memang persoalan HES tidak seketat sekarang, krn mereka masih menggunakan tangga tradisional utk men-cat rumah dan bukan pakai Scaffolding, dan tidak didampingi oleh orang saat melakukan pengecatan di ketinggian. Jadi kitalah yang menilai dan melihat konteks pekerjaannya. Kalau buat hemat saya pribadi, memang HES adalah modal awal yang utama, kadang malah kita lupa itulah modal utama yang diberikanNya utk bisa kita beraktifitas. Namun kita pun berharap ada kompensasi yang berbanding lurus terhadap kondisi tersebut. Selamat Bekerja

  3. SumurunG says:

    boleh saja aturanya dibuat kayak gitu lae, permasalahannya kontraktor harus untung dan sipekerja harus mendapatkan upah yang layak. Yang terjadi saat ini, chevron menginginkan pekerjaan itu dilakukan sesuai dengan prosedur mereka, sementara pihak pekerja hanya mampu melakukan sesuai prosedur mereka jadi sampai kapanpun tidak ketemu. contohnya, tukang cat yang aku ceritakan diatas hanya membutuhkan satu atau dua lembar papan sebagai pijakan dia ketika melakukan pengecatan diketinggian satu atau dua meter tetapi dipaksa untuk mengunakan tangga yang canggih dan mahal atau tukang cat lebih cepat bekerja tanpa kacamata tetapi dipaksa juga mengunakan kaca mata. Ada juga cerita seorang sahabat yang mengunakan mobil angkut yang layak menurut dinas perhubungan tetapi karena tahun keluaran menurut chevron sudah tua akhirnya terpaksa diganti atau jam kerja yang terlalu dibatasi. aku tahu lae jhonny punya pengalaman mengenai ini dan aku tahu juga lae berhasil mensiasatinya. 😉 Berita terbaru yang aku dengar lebih menyedihkan, beberapa perusahaan yang dinyatakan sebagai pemenang tender dengan harga tertentu sekarang ini pada saat eksekusi item-item pekerjaan tersebut juga akan di “lelang” lagi secara selektif padahal mereka mendapatkan kontrak tersebut sudah melalui proses teder juga. Praktik ini persis seperti membeli cabe dipasar.. Menurut aku proses tender tidak dihargai disini.

  4. jhonni hutapea says:

    …..udah begitu aturan mainnya,ya bagaimana lg lae…..sekarang yg butuh kerja siapa???tapi memang bgtulah faktanya..terkadang peraturan2 yg dibuat dilingkungan chevron sekarang ini bisa sedikit “merugikan” bagi pihak2 tertentu..itu dikarenakan ada system yg dibuat pihak chevron untuk lebih mengutamakan KESELAMATAN kerja diatas segalanya….safety first

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s